FORUM BERDESA DAN EDUKASI

Berdesa, Berdata, Bermedsos

 
Panduan Sistem Mesin Uang Otomatis (SMUO)

.

Cara Menghasilkan Uang dari Blog

.

Panduan Sukses Bisnis di AMAZON.COM

sukses dari amazon.

AdsenseCamp (Pay Per Click)

.

Adsense Indonesia

Kumpul Blogger (Pay Per Click)

Claxon Media (Pay Per View)

Digg

Bidvertiser

Sukses dari AWSurveys

.

Software Pasang Iklan Massal di Internet

software pasang iklan massal di internet

Software Iklan Baris Massal

Software Iklan Baris Massal

Media Promosi

Media Iklan Baris Gratis !.

Smorty Blog Advertising

Blog Advertising - Get Paid to Blog

Krisis Finansial, Kebijakan Populis dan Pemilu
Jumat, 12 Desember 2008
Krisis finansial yang terjadi belakangan ini memang bermula dari Amerika Serikat. Akan tetapi, efek dominonya dirasakan negara-negara lain, termasuk Indonesia, hal ini tidak bisa dihindarkan.
  • Hal itu berbeda dengan krisis finansial yang terjadi pada pertengahan 1997. Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya tidak terpengaruh krisis yang terjadi di Asia Tenggara dan Asia Timur tersebut. kuncinya jelas. Amerika Serikat merupakan negara raksasa secara ekonomi dan politik. Apa yang terjadi di negara itu -langsung maupun tidak langsung- berpengaruh terhadap negara-negara lain.
  • Pada awal-awal terjadinya krisis, kita masih optimistis krisis itu tidak akan berpengaruh terhadap Indonesia. Belakangan, optimisme tersebut berkurang. Sejumlah indikator sederhana bisa kita jadikan pijakan. Nilai rupiah terkoreksi cukup signifikan, lebih besar daripada rata-rata koreksi mata uang di negara-negara lain. Nilai ekspor kita juga menurun. Tidaklah mengherankan kalau para ekonom sepakat bahwa angka pertumbuhan ekonomi kita juga akan terkoreksi, khususnya untuk tahun depan.
  • Turunan dari implikasi krisis itu ialah, angka pengangguran bisa jadi akan meningkat. Demikian pula halnya angka kemiskinan. Padahal, seiring dengan mulai membaiknya perekonomian, angka pengangguran dan kemiskinan dalam tahun-tahun belakangan turun (kalau merujuk pada data BPS).
  • Dalam kondisi semacam itu, pekerjaan pemerintah untuk mengatasi masalah ekonomi semakin berat. Ujian tersebut bertambah kalau mengingat pemerintah akan menghadapi pemilu tahun depan. Sebagai incumbent, Presiden SBY dan partai-partai pendukungnya tentu saja ingin terpilih kembali.Secara teoretis, incumbent memiliki potensi lebih mudah terpilih kembali. Syaratnya, pemerintah yang dipimpin memiliki prestasi lebih dari cukup, khususnya di bidang ekonomi.
  • Logikanya sederhana: ketika angka pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, tingkat pengangguran dan kemiskinan rendah, incumbent akan mudah terpilih kembali.Logika semacam itu memang dikembangkan Anthony Downs (1957) di negara-negara yang memiliki pemilih rasional. Tatapi, di negara-negara yang pemilih rasionalnya masih lebih terbatas, logika semacam itu juga mulai berlaku.
  • Kalau kita cermati, para incumbent yang terpilih kembali pada Pilkada, rata-rata adalah kepala daerah yang relatif berprestasi membangun daerahnya. Memang, dalam memaknai prestasi di bidang ekonomi, logika yang dikembangkan bukan hanya berdasar logika pasar (neoliberal).
  • Dalam pandangan logika neoliberal, pemerintahan akan berhasil mengembangkan ekonomi jika mampu memberikan keleluasaan kepada pasar untuk bergerak.Dalam logika pilihan politik tidak harus seperti itu.
  • Di bidang ekonomi, pemerintah diharapkan memiliki kebijakan-kebijakan yang memungkinkan semua orang dan kelompok memiliki akses untuk memperoleh kemakmuran secara adil. Hal itu tidak lepas dari realitas bahwa berjalannya mekanisme pasar tidak sepenuhnya menghasilkan sesuatu yang saling mengungtungkan dan berlangsung secara fair.
  • Dalam situasi seperti itu, kebijakan-kebijakan pemerintah lalu diperlukan, baik kebijakan di dalam mengalokasikan dan mendistribusikan sumber-sumber yang dimiliki negara, kebijakan mengatur kekuatan-kekuatan ekonomi agar tidak merugikan (regulasi), serta kebijakan realokasi dan redistribusi sumber-sumber kepada orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak beruntung.
  • Karena itu, di banyak negara, setiap menjelang pemilu selalu dijumpai paket-paket kebijakan yang bercorak populis, seperti kebijakan di bidang pendidikan dan kesehatan, termasuk di dalamnya kebijakan memberikan subsidi. Studi yang dilakukan Rodrigo Cerda dan Rodrigo Vergara (2008) menunjukkan bahwa semakin besar cakupan subsidi yang diberikan oleh pemerintah yang berkuasa, semakin berpeluang terpilih kembali.
  • Upaya pemerintah membuat kebijakan redistribusi, semisal BLT, belakangan memang dicurigai. Kebijakan itu dianggap sebagai akal-akalan pemerintahan SBY-JK untuk merebut hati rakyat agar memilih mereka kembali pada pemilu tahun depan. Kecurigaan semacam itu memang wajar saja. Tetapi, di mana pun pemerintah yang berkuasa, mereka tentu berkeinginan terpilih kembali kalau konstitusinya memungkinkan.
  • Kelompok oposisi tidak harus capek-capek menghalanginya. Yang harus dilakukan kelompok oposisi adalah menawarkan alternatif-alternatif kebijakan yang lebih baik. Menghadapi kritikan semacam itu, pemerintah sendiri pernah ''menyerah''. Kebijakan BLT sendiri hanya berlansung beberapa bulan saja untuk tahun depan.
  • Dengan demikian, pada pelaksanaan pemilu, para penerima BLT tidak akan menerimanya lagi.Hanya, untuk mengatasi implikasi krisis finansial Amerika Serikat itu, pemerintah tidak bisa diam dan menyerahkan kepada mekanisme pasar.
  • Sejumlah rancangan (kebijakan) telah disusun meski implementasinya tidak semuanya efektif. Hal tersebut tidak lepas dari fakta bahwa pemerintah memang tidak bisa mengontrol pasar secara penuh.Tetapi, mengingat krisis itu bisa berpengaruh terhadap naiknya angka pengangguran dan kemiskinan, sejumlah kebijakan yang bercorak populis mau tidak mau harus dibuat. Kalau tidak, nasib pengganggur dan si miskin akan semakin parah.
  • Untuk itu, pemerintah harus mampu meyakinkan pengkritiknya bahwa kebijakan-kebijakan yang dibuat tersebut lebih diarahkan untuk penyelamnatan-penyelamatan.Memang, ketika kebijakan semacam itu diluncurkan dan membawa hasil, akan menjadi kredit bagi incumbent di dalam pemilu tahun depan. Tetapi, yang harus diingat, penilaian pemilih tidak hanya berkait dengan kebijakan-kebijakan populis, melainkan juga kebijakan-kebijakan yang lain. Selain itu, pemilih kita masih belum sepenuhnya rasional. Faktor ikatan ideologi dan kepemimpinan masih memiliki pengaruh yang tidak kecil di dalam perilaku para pemilih. Kita lihat saja tahun depan.
posted by MOCH. SAICHU, SS, M.Si @ 07.30  
1 Comments:
  • At 15 Desember 2008 pukul 02.03, Anonymous Anonim said…

    mampir mas. artikelnya bagus dan menarik.
    tapi backgroundnya gelap jadi kurang nyaman di mata membuat pengunjung tidak nyaman membaca posting mas ichu kalau.
    menurut mas joko susilo sih backgroundyna lebih baik warna dasar seperti putih lalu paragraf tiap posting agak di beri space

    mau tukeran link mas?

     
Posting Komentar
<< Home
 
&amp;amp;amp;amp;amp;lt;!-- end blogger code-->
Biodata Pengelolah

MOCH. SAICHU, SS, M.Si
Kab Sidoarjo, East Java, Indonesia
Tentang Saya
Lihat Profil Lengkap
Sudahkah Anda Shalat


Free Blog Content

CHAT BOX
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Artikel Terkini
Arsip
Links Pemerintah
Links GuruNet
Links Teman

Anda Pengunjung Ke

Asal Pengunjung

free counters

Powered by

BLOGGER

CO.CC:Free Domain

Banner Exchange

duniacyber.com Indonesia Advertising Portal

Info Lowongan Kerja

BengkelProgram.com

FORUM BISNIS DAN EDUKASI

© 2005 FORUM BERDESA DAN EDUKASI Blogspot Template by Isnaini Dot Com